0

AC Manullang : Penangkapan Ba'asyir adalah Grand Strategi Amerika Serikat

Amir Jamaah Ansharut Tauhid Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kembali harus berurusan dengan polisi. Ia dicokok dalam perjalanan di Jawa Barat. Sederet pasal dengan hukuman maksimal menunggunya. Ia didakwa polisi sebagai dalang terorisme di Indonesia. Benarkah seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Untuk menjawabnya, inilah wawancara dengan AC Manullang, mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN):

Menurut data intelijen yang Anda miliki benarkah Abu Bakar Ba’asyir terkait tindak terorisme?
Sejak kapan Abu Bakar Ba’asyir terkait teroris? Dari pengamatan intelijen, saya mengatakan, siapa pun di negeri ini, termasuk Polri, dan Kejaksaan Agung, tidak mempunyai data-data apapun juga bahwa Abu Bakar Ba’asyir itu teroris.

Masa sih, tidak adakah satu bukti pun yang menunjukkan keterkaitan Abu Bakar Ba’asyir dengan salah satu pemboman di Indonesia?
Sampai sekarang tidak ada yang mampu memberikan bukti itu. Yang ada adalah rahasia negara. Siapa itu? Ada di tangan presiden. Mengapa presiden tidak membuka? Dia ada hak untuk membuka itu. Sehingga dapat diketahui ada atau tidak bukti yang menunjukkan Abu Bakar Ba’asyir terlibat.


Bukankah Polri mengatakan penangkapan karena ada bukti?
Polisi mengatakan penangkapan itu sah karena sudah terbukti bahwa dia terlibat menerima dana dari luar negeri untuk mendanai latihan-­latihan terorisme di Aceh demikian juga di tempat-tempat lain. Wah luar biasa itu!
Jadi kemungkinannya Polri mendapat data dari intelijen luar negeri atau asing yang selama ini sudah mengategorikan Abu Bakar Ba’asyir itu the most wanted sebagai teroris. Sebaliknya, SBY mengategorikan dirinya sebagai the most target erancian terrorist, ha... ha... ha...
Jika betul bukti yang dimaksud Polri itu ada, maka penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu tidak perlu dihebohkan,.. cukup panggil saja dia.
Sebenarnya penangkapan tersangka terorisme boleh-boleh saja.

Tetapi mengapa heboh dan menangkapnya di pinggir jalan dan publikasi yang luar biasa?
Timbul pertanyaan, mengapa penangkapan teroris ini dipublikasikan luar biasa besarnya terutama yang diberitakan media televisi. Yang diuntungkan dalam publikasi­-publikasi ini adalah luar negeri. Pencitraan untuk umum khususnya masyarakat bawah mirip seperti sinetron-sinetron di televisi, cukup menarik perhatian bahkan iba kepada pimpinan nasional.
Padahal itu merupakan upaya penggiringan publik agar melupakan kasus skandal rekening gendut pejabat tinggi Polri, kenaikan TDL dan sembako, pilkada yang rusuh di mana-mana, biaya kunjungan luar negeri yang semakin membengkak, skandal Gayus, dan masalah-masalah lainnya yang menunjukkan buruknya kinerja pemerintah.
Maka intelijen menilai bahwa ini merupakan suatu strategi yang sangat penting buat SBY untuk tetap mendapat perhatian dan pencitraan positif dari publik dan Amerika Serikat bahwa Indonesia antiteroris. Ini semua memang bagian dari grand strategy Amerika Serikat yang mengusung neoliberalisme dan neokapitalisme sekaligus mencitrakan Islam sebagai lawannya.
…Dari pengamatan intelijen, tidak ada data-data apapun bahwa Abu Bakar Ba’asyir itu teroris…
Wah...
Memang aksi-aksi intelijen saat ini cenderung di dalam kerangka deceptions operation intelligent artinya penyesatan- penyesatan intelijen. Nah, grand strategi global ini menunjukkan dan memunculkan penyesatan yang paling terkenal yakni terorisme dan Abu Bakar Ba’asyir sebagai the most dangerous terrorist.

Pertanyaan saya, pertanyaan para intelijen, apa memang betul bahwa penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sebagai penangkapan teroris?
Dari segi intelijen mengatakan sama sekali tidak bisa.

Tapi kan Polri menangkap Abu Bakar Ba’asyir mestilah ada dasarnya. Sudah dua kali dibawa ke pengadilan, namun aparat gagal membuktikan bahwa Abu Bakar Ba’asyir teroris. Apa hal yang sama akan terulang untuk ketiga kalinya?
Bukan tidak mungkin terjadi untuk yang ketiga kalinya. Karena saya berkata yang menjadi otak atau pelaksana adalah agen-agen intelijen asing itu yang ada di Indonesia. Tentu mereka bekerja untuk kepentingan CIA Amerika, Mossad Israel dan ONA Australia. Coba kita lihat, sampai ada polisi yang menjadi agen mereka yang melatih di Aceh. Jadi jangan dibilang Abu Bakar Ba’asyir dong, tetapi ya orang itu.
Tapi bisa saja pengadilan mengambil data-data dari mereka sebagai data yang sah atau tidak sah. Tetapi menurut pengamatan intelijen saya absolutely tidak sah. Mengapa? Karena bila berdasarkan data intelijen, seharusnya penangkapan Abu Bakar Ba’asyir dilakukan secara tertutup bukan malah dihebohkan.
…Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sangat besar artinya di luar negeri, tapi sangat merugikan Muslim Indonesia…
Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sangat besar artinya di luar negeri. Jadi sebenarnya dengan penangkapan Abu Bakar Ba’asyir sedemikian rupa sangat merugikan Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini, karena Indonesia akan benar-benar dimaknai oleh asing sebagai sarang teroris.

Mengapa bisa terjadi penyesatan intelijen, lantas apa peran BIN Indonesia?
Ya, karena intelijen Indonesia sekarang hanya sebagai pengamat, bukan operator sehingga tidak bisa melakukan operasi kontra intelijen.

Jadi maksud Anda selama ini BIN tidak difungsikan?
Betul. Sejak reformasi, sistem intelijen Indonesia diubah sedemikian rupa sehingga tidak bisa lagi melakukan kontra intelijen.

Bila BIN berfungsi seperti apa kontra intelijen yang seharusnya dilakukan?
Sedari awal dilakukan pencegahan dan tidak ada lagi pencomotan aktivis Islam. Jadi, sebelum terjadi sesuatu itu BIN harus sudah tahu sehingga pemerintah dapat mencegah. BIN melaporkan kepada presiden. Jadi sebelum ditangkap dan dibawa ke pengadilan sudah di-counter terlebih dahulu, diikuti orang itu dan bukan tidak mungkin juga di lapangan bertemu dengan agen-agen asing yang sedang melakukan penyesatan intelijen. Kontra intelijen perlu!
Tapi ingat BIN itu seharusnya bukan bekerja untuk presiden, bukan pula bekerja untuk legislatif, maupun yudikatif tetapi untuk rakyat clan negara Indonesia. Malah saya bilang intelijen berhak menjatuhkan presiden, karena BIN bekerja untuk rakyat dan negara Indonesia.

Mengapa sih asing terus bermain di Indonesia?
Menurut saya negara­-negara terutama Amerika, Israel dan Australia sangat berkepentingan dengan masa depan Indonesia. Karena menurut ketiga negara ini, Indonesia bisa menjadi ancaman, gangguan, tantangan bila umat Islam di Indonesia ini bersatu. Kalau itu terjadi apa bisa Israel tetap berdiri? Jelas tidak bisa. Apakah Indonesia tetap bisa jadi jembatan Asia Pasifik? Tidak bisa karena Indonesia jadi berdaulat, yang lewat harus bayar dong.
Jadi sekarang ini Indonesia selalu diobrak-abrik, dipecah­-pecah. Dari segi intelijen, tidak mungkin pecah Indonesia ini kalau bukan oleh orang Islam sendiri yang dipakai oleh intelijen. Sasaran utamanya memang negara-negara Arab.
Tuhan memang telah memberikan anugerah yang sangat luar biasa kepada Islam. Di seluruh negara-negara Islam ada minyaknya. Amerika mengincar itu. Jadi target utama Amerika itu adalah Turkmenistan, Uzbekistan, Tazikistan, Kargikistan, karena keempatnya merupakan negeri yang tidak akan habis minyaknya sampai berakhir bumi ini. sekarang keempat tempat tersebut sudah aman dikuasai oleh pengusaha‑pengusaha Yahudi. Nah yang dianggap paling mengancam eksistensi Yahudi kelak adalah Indonesia, ketika umat Islam terbesar ini bersatu.
Untuk mencegah persatuan itu, maka salah satu caranya adalah dengan membawa neoliberalisme dan neokapitalisme. Paham inilah yang mengatakan Islam sebagai teroris.
…orang-orang yang ada di sekeliling SBY ini adalah orang-orangnya CIA. SBY itu dibodoh-bodohi oleh orang­-orang yang dipakai CIA itu. Mereka menjadi pembisik-pembisik SBY…
Siapa ”orang Islam sendiri” yang Anda maksud dimanfaatkan intelijen Amerika, Israel dan Australia itu?
Intelijen tidak pernah menyebutkan keterangan apapun karena memang tidak boleh. Yang bisa menyebutkan keterangan hanyalah presiden. Cuma, saya hanya boleh mengatakan orang-orang yang ada di sekeliling SBY ini adalah orang-orangnya CIA. SBY itu dibodoh-bodohi oleh orang­-orang yang dipakai CIA itu. Mereka menjadi pembisik-pembisik SBY! [taz/media umat]

0 comments:

Posting Komentar